Kamis, 06 September 2012

mencatat sejarah integritas akuntan

Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan mengharapkan akuntan Indonesia  berusaha menjadi profesi yang diidentikkan dengan integritas dan kejujuran.  Anak cucu kita akan mencatat setiap sejarah integritas yang ditegakkan oleh para akuntan, untuk membuktikan komitmen mereka kepada keprofesian, masyarakat, serta bangsa dan negara.
Dalam pemaparannya, Anies mengemukakan profesi mulia yang membangun kekuatan kompetitif bangsa Indonesia adalah akuntan, sebab mereka merupakan orang-orang yang memiliki integritas tinggi.
Dia mengatakan aura akuntan adalah kejujuran dan ketegasan, sehingga pantas bagi mereka untuk berdiri pada barisan terdepan dalam memajukan masyarakat Indonesia.
Menurut Anies ada begitu banyak modal kekayaan bangsa yang membuat masyarakat Indonesia berpeluang untuk maju dan berkembang. Namun senantiasa yang menjadi penghambat dan menjadi penyakit kronis adalah faktor integritas. Untuk itu, gugah Anis, seribu langkah harus ditempuh untuk memperbaiki faktor integritas, sehingga pada akhirnya  masyarakat Indonesia akan berada pada trend kepercayaan dan membuat mereka diterima dimana-mana.
“Profesi dokter, asosiasinya adalah sosial. Pendidikan asosiasinya adalah edukasi. Akuntan asosiasinya adalah kejujuran. [Dan akuntan Ini] merupakan bagian dari IAI. Kelak, di masa depan anak cucu kita akan membaca catatan integritas dan kejujuran [akuntan] kita di mesin Google,” ujar penggagas Indonesia Mengajar ini.
Sarjana Ekonomi UGM ini mengatakan, akuntan adalah profesi krusial dalam menegakkan integritas kebangsaan. Makanya, akuntan memiliki kewajiban moral untuk menjadi lokomotif menegakkan  integritas di negeri Indonesia Raya.
Pencitraan tersebut tidak berlebihan. Soalnya, Anies mengetahui dan memahami bahwa profesi akuntan sudah dididik dan ditempa untuk mengedepankan kejujuran dan integritas sudah sejak berada di dunia kampus.
Tak mengherankan bila filosofi tersebut telah berada di benak akuntan, dan sudah menjadi jalan hidup akuntan dalam melaksanakan tanggungjawab keprofesiannya.
“Ciri khas akuntan tidak mau kompromi dan korektif mendorong sektor lain untuk berubah. Jika ada pertanyaan, siapa penjaga gawang dalam perusahaan? Budget kita yang bertriliun-triliun, Siapa yang mengelola ? Jawabannya adalah akuntan,” ungkapnya.
Anies menegaskan pada zaman ini dunia sudah serempak bergerak menuju penghapusan praktek-praktek korupsi. Transparansi harus dinomorsatukan. Bahkan integritas digaungkan laiknya kampanye penghapusan perbudakan atau rasialisme  di zamannya, karena begitu pentingnya integritas dalam mendorong pembangunan dan kemajuan suatu bangsa.
 “Kita hidup dimana era informasi akan langgeng. Ada yang mengatakan kalau mau korup seharusnya dilakukan tahun 70-an. Karena belum disimpan dalam mesin Google. Kalau sekarang ‘your story is part of life story’. Anak cucu kita akan membaca catatan dosa kita,” katanya.
Anies mengungkapkan kabar ‘it is no so good’ kerap kali melanda Indonesia. Yang teramat ironis adalah Indonesia dimasukkan dalam kategori negara gagal, padahal di era-era sebelumnya Indonesia tampil menjadi negara dengan sebutan The Miracle of Asia.  Bahkan pernah dimasukan pula ke dalam negara-negara yang diproyeksikan berperan besar dalam kancah global.
Namun dia menegaskan, kita tidak perlu khawatir. Republik Indonesia maju, berkembang, dan berubah ditentukan oleh masyarakat  Indonesia sendiri bukan pandangan internasional. Menurutnya, bangsa Indonesia selama ini telah memilih cukup persyaratan untuk optimisme. Dan jangan sampai terjebak dalam pesimisme kolektif.
“Yang menarik begitu kabar baik tentang Republik ini muncul, kita menahan diri. Sebaliknya, begitu kabar buruk muncul, kita beramai-ramai merayakannya,” ujar Anies.
Menurut Anies, sudah saatnya negeri ini membangun kepercayaan diri. Unsur kepercayaan ini  hadir ketika masyarakat mulai menyadari tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pertumbuhan ekonomi ‘knowledge based society’. Masa depan ekonomi bangsa bukan hanya berada di ujung lidah presiden. Tapi harus kolektif.
“Semua elemen negara harus berubah.  Tidak hanya menitipkan cita-cita negeri pada seorang pemimpin semata. Membawa kata pemimpin, yang dituding pasti adalah presiden. Ini adalah kerja kolektif. Semua elemen harus klop  bergerak mewujudkan cita-cita bangsa,” ujarnya.
Anies melanjutkan ekonomi dunia dari tahun 1 Masehi sampai akhir abad ke-16 lebih dari 50 persen perekonomian dunia berada di BenuaAsia. Sesudah revolusi industri perekonomian Asia mengalami penurunan yang dasyat. Kemudian pada abad ini kejayaan  Asia kembali bangkit.
Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini, tuturnya, Asia mulai menemukan kemakmuran dengan ‘driver’ utama yang paling besar adalah negeri tirai bambu Cina. Sementara itu Jepang telah berada lama di puncak keemasan, diikuti dengan Korea Selatan, Taiwan, India, negara-negera Asia Timur hingga Asia Tenggara yang sangat ‘Amazing’.
Dalam analisis Anies, melihat masa depan Asia sebagai sebuah benua yang akan tumbuh besar, maka Asia bisa jadi bukan lagi dengan sebutan ‘the emergence of Asia’ tapi pada akhirnya sudah pantas dengan julukan  ‘the real emergence of Asia’.
 “Indonesia bisa lebih baik dari negara-negara yang posisi [pendapatannya] US$ 1.000. Kita mampu membangun daya saing nasional yang letak masalahnya di berbagai items adalah  defisit integritas,” katanya.
Anies melanjutkan jika setiap individu memiliki semangat dan optimis untuk bangkit, maka itu akan mempengaruhi lingkungan dan pada akhirnya akan membuat bangsa ini akan mengalami kebangkitan, sehingga visi Indonesia menjadi bangsa yang besar bukan hanya impian.
 
 “Hari ini perbudakan dan rasialisme habis. Negera-negara yang mempraktikan hal itu satu per satu meng-delete dua kata tersebut. Negara terakhir yang menghapus perbudakan tidak akan dilupakan oleh sejarah. Dan untuk men-delete korupsi kita harus memiliki integritas dan kejujuran yang tinggi,” pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar